SUNGAI PENUH – Humas PLTA Kerinci Merangin Hidro, Asrori, memberikan klarifikasi terkait menurunnya debit air Danau Kerinci. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh operasional PLTA.
Keterangan itu disampaikan Asrori di hadapan wartawan dan sejumlah LSM Kerinci–Sungai Penuh dalam pertemuan yang digelar di Aula Hotel Mahkota, Sungai Penuh, Kamis (5/2).
Dirilis dari alberita.com, Asrori, mengatakan penurunan debit air Danau Kerinci lebih dipengaruhi oleh menurunnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut sepanjang Januari curah hujan berada pada level sangat rendah.
“Kami bukan bermaksud membela diri, tetapi faktanya memang terjadi penurunan curah hujan,” ujarnya.
Asrori juga menjelaskan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melakukan modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan. Namun, dalam kondisi tertentu, modifikasi cuaca justru dilakukan untuk menahan hujan agar tidak turun.
Lebih lanjut, Asrori,memaparkan bahwa kebutuhan air PLTA Merangin Hidro mencapai sekitar 100 meter kubik per detik. Jika seluruh kebutuhan tersebut hanya mengandalkan Danau Kerinci, maka danau berisiko mengalami kekeringan dalam waktu singkat.
“PLTA tidak hanya mengandalkan air Danau Kerinci. Sebagian besar pasokan air justru berasal dari Sungai Batang Merangin,” katanya.
Ia menegaskan, penggunaan air Danau Kerinci oleh PLTA hanya sekitar 40 persen untuk mengoperasikan tiga unit turbin. Sementara 60 persen kebutuhan air lainnya dipasok dari Sungai Batang Merangin.
Dengan demikian, Asroli menegaskan bahwa menyusutnya debit air Danau Kerinci tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan keberadaan PLTA Kerinci Merangin Hidro. Ia juga menyebut, fenomena penyusutan air danau pernah terjadi sebelum proyek PLTA dibangun.
“Kami sudah memprediksi kondisi ini dan penjelasan kami didasarkan pada data yang ada,” pungkasnya.(Die)