KERINCI– Rekanan pelaksana pekerjaan pengaspalan di wilayah Sanggara Agung angkat bicara menanggapi sorotan masyarakat terkait kondisi aspal yang dinilai mudah rusak setelah pengerjaan.
Rekanan mengakui bahwa dirinya yang mengerjakan proyek pengaspalan tersebut. Ia menjelaskan, kondisi aspal yang terlihat belum padat atau mudah terlepas dalam beberapa hari pertama merupakan hal yang lazim dalam pekerjaan pengaspalan, khususnya menggunakan metode aspal goreng.
“Memang standar pengerjaan aspal seperti itu. Satu hari setelah pemasangan aspal, sudah ada aktivitas masyarakat yang menginjak bahkan merusak permukaan aspal,” ujarnya.
Menurutnya, aspal goreng membutuhkan waktu untuk benar-benar lengket dan menyatu dengan permukaan jalan. Proses tersebut umumnya memakan waktu antara satu hari hingga satu minggu, tergantung kondisi cuaca dan intensitas lalu lintas.
“Aspal goreng dalam waktu satu hari sampai satu minggu itu memang belum sepenuhnya lengket atau menyatu. Kalau sekarang dicoba dipijak atau diremas, tentu masih bisa bergerak,” jelasnya.
Meski demikian, rekanan menegaskan bahwa pekerjaan tersebut masih dalam masa pemeliharaan. Pihaknya menyatakan siap bertanggung jawab dan melakukan perbaikan apabila setelah masa pemeliharaan ditemukan bagian jalan yang masih longgar atau mengalami kerusakan.
“Masa pemeliharaan masih berjalan. Jika memang masih ada bagian yang longgar, kami siap memperbaiki jalan tersebut,” tegasnya.
Rekanan berharap masyarakat dapat memahami proses teknis pengaspalan dan bersama-sama menjaga kondisi jalan agar hasil pekerjaan dapat bertahan sesuai dengan yang diharapkan.(Die)