Proyek Normalisasi Sungai Batang Merao Dipercepat, Pemerintah Genjot Upaya Reduksi Banjir Kerinci–Sungai Penuh

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:51:44 WIB
Sungai Batang Merao

JAMBI – Kerinci–Sungai Penuh kembali menjadi fokus penanganan banjir setelah pemerintah mempercepat proyek normalisasi di aliran Sungai Batang Merao. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menurunkan risiko banjir tahunan yang kerap merugikan warga di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh.

Sungai Batang Merao sendiri memiliki panjang sekitar 57 kilometer, namun penanganan dilakukan secara bertahap sesuai prioritas titik rawan banjir.

Pengerjaan Bertahap: 2025 dan 2026

Pada tahun 2025, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (BWSS VI) Jambi telah menyelesaikan normalisasi sepanjang kurang lebih 9 kilometer, dengan fokus pekerjaan dari wilayah Debai hingga Rawang. Segmen ini menjadi prioritas karena kerap terdampak luapan air saat curah hujan tinggi.

Sementara pada tahun 2026, pekerjaan lanjutan kembali dilaksanakan sepanjang sekitar 1,5 kilometer pada titik-titik kritis yang masih mengalami penyempitan dan pendangkalan.

Meski demikian, dengan total panjang alur Sungai Batang Merao mencapai 57 kilometer, pemerintah menegaskan bahwa penanganan ini merupakan program jangka panjang yang terus berlanjut secara bertahap.

Percepatan Pengerukan di Titik Rawan Banjir

Pekerjaan di lapangan saat ini difokuskan pada pengerukan sedimentasi yang selama bertahun-tahun menyumbat aliran sungai. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat endapan lumpur yang menyebabkan penyempitan kapasitas sungai.

Selain itu, tim teknis juga melakukan penataan ulang alur sungai di beberapa titik kritis untuk mengembalikan fungsi aliran agar lebih optimal saat debit air meningkat.

Penguatan Tebing Sungai untuk Jangka Panjang

Selain pengerukan, proyek ini juga mengedepankan penguatan struktur tebing sungai menggunakan material geotekstil. Teknologi ini dipilih untuk menahan erosi sekaligus memperkuat kestabilan tanah di bantaran sungai.

Tahap lanjutan juga direncanakan dengan penanaman vegetasi penahan tanah guna menciptakan perlindungan alami yang lebih berkelanjutan.

Pendekatan Baru: Pencegahan Banjir Berbasis Infrastruktur

Pemerintah kini mengubah pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Fokus tidak hanya pada penanganan saat banjir terjadi, tetapi juga pada normalisasi menyeluruh, pelebaran alur sungai, dan pengawasan aktivitas di sepanjang daerah aliran sungai.

Pengendalian juga dilakukan terhadap aktivitas yang mempercepat pendangkalan seperti penambangan material dan pembuangan sampah di sekitar sungai.

Respons Masyarakat Mulai Terlihat

Warga di beberapa titik bantaran sungai mulai merasakan dampak awal normalisasi, terutama pada kelancaran aliran air yang sebelumnya sering meluap saat hujan deras.

Namun pemerintah tetap mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.

Tantangan Cuaca dan Medan Pekerjaan

Di lapangan, proyek ini masih menghadapi sejumlah kendala seperti kondisi tanah yang labil, keterbatasan akses alat berat, serta curah hujan tinggi yang dapat menghambat proses pekerjaan.

Meski demikian, koordinasi lintas instansi terus dilakukan agar pelaksanaan proyek tetap berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.

Arah Kebijakan Jangka Panjang

Selain normalisasi sungai, pemerintah juga menyiapkan strategi lanjutan berupa rehabilitasi daerah tangkapan air di kawasan hulu serta penguatan sistem drainase perkotaan.

Dengan pendekatan terpadu ini, risiko banjir di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh diharapkan dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Terkini