Puluhan Pekerja Terdampak, dr. Biran: Kita Berharap Bisa Dievaluasi Kembali

Jumat, 04 September 2026 | 13:30:00 WIB
Puluhan Pekerja Terdampak, dr Biran: Kita Berharap Bisa Dievaluasi Kembali

Pelalawan (Sekatanews.com) - Sebuah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di kota Pangkalan Kerinci, kabupaten Pelalawan, dihentikan secara mendadak, pada Kamis, 3 September 2026 malam kamrin. Akibatnya sekitar 3.000 siswa yang biasa penerima manfaat MBG dan 47 relawan kehilangan pekerja yang didominasi emak-emak ikut terlantar.

Tidak itu saja, dihentikan dapur MBG, memicu kebingungan dan kekecewaan, terhadap pemilik selaku pihak mitra pengelola merasa tidak pernah menerima surat keputusan resmi yang menjadi dasar penghentian tersebut.

"Sebelumnya kami sudah ada menerima surat teguran terkait fasilitas dapur. Tapi sudah dijawab dan membalas dengan siap memperbaiki dalam waktu 30 hari. Tapi kenapa saat beroperasi dan memasak, tiba-tiba langsung dihentikan sebelum ada kejelasan hukum," kata dokter Biran, Jumat 4 September 2026 kepada Sekatanews.com.

Dikatakan Biran, pihaknya sebagai mitra baru malam hari menerima surat dari KPPG terkait permohonan pemberhentian terhadap dapur yang dikelolanya. Sedangkan operasional sudah diminta berhenti sejak Kamis siang, oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Pangkalan Kerinci, kabupaten Pelalawan.

Maka imbas dari kejadian ini, puluhan relawan kehilangan pekerjaan dan 3.000 pelajar serta  anak balita yang biasa mendapatkan layanan gizi dihentikan.

"Siang sudah diberhentikan operasional dapur. Sementara kami menerima surat dari KPPG pada malam hari sebelum eksekusi penghentian dilakukan. Itupun surat yang diterima baru sebatas permohonan pemberhentian bukan surat keputusan (SK) final. Hingga dihentikan selama 10 hari kedepan," tuturnya.

Sedangkan dipaparkan, dokter Biran juga mengatakan, bahwa mitranya tidak anti evaluasi. Sebaliknya, pihaknya berkomitmen penuh mendukung program pemerintah. Namun, prosedur administrasi yang dianggap tidak transparan inilah yang menjadi ganjalan utama. 

"Kalau ada kekurangan, kami siap lengkapi. Namun, menurutnya, yang dipersoalkan adalah penghentian kegiatan sebelum adanya kejelasan mengenai keputusan dan dasar pemberhentian. Dengan penghentian operasional tersebut berdampak langsung terhadap 47 relawan yang bekerja di dapur MBG," ucapnya.

Untuk itu dokter Biran, meminta agar persoalan yang terjadi tidak berujung pada intimidasi terhadap para relawan. Ia berharap komunikasi antara pihak terkait dilakukan secara persuasif dan terbuka.

"Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut pihak mitra, tetapi juga keberlangsungan pekerjaan puluhan relawan serta pelayanan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah dan balita penerima manfaat. Kita berharap bisa dievaluasi kembali," pungkasnya, berharap.

Sementara itu, Ressy Kepala SPPG Pangkalan Kerinci Kota, ketika diminta tanggapan terkait penghentian proses memasak tersebut., tidak bersedia memberikan keterangan. Bahkan memilih kabur naik mobil bersama teman-temannya yang ikut membantu membawa barang-barangnya tersebut.

Begitu juga Kepala Koordinator Kecamatan (Ka-Korcam) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), MBG kecamatan Pangkalan Kerinci, Sabar juga menolak memberikan keterangan ketika ditemui di lokasi.

“Itu di luar kuasa saya, Pak, karena saya hanya sebagai Korcab, silahkan tanya dengan pimpinan," katanya.

Sabar menambahkan, kalau mau lebih jelas permasalahan ini, langsung aja konfirmasi KPPG Pekanbaru: Wilayah kerja mencakup Provinsi Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat yang dipimpin oleh Dr. Syartiwidya STP MSi. 

Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai kepastian kelanjutan operasional dapur maupun layanan MBG bagi sekitar 3.000 siswa dan penerima manfaat balita tersebut.***

Terkini