Marak Pencemaran Lingkungan Sebabkan Ikan Mati, Warga Pelalawan Resah

Kamis, 06 November 2025 | 17:35:44 WIB
Marak Pencemaran Lingkungan Sebabkan Ikan Mati, Warga Pelalawan Resah

Pelalawan (SekataNews.com) - Fenomena matinya ratusan ikan dan munculnya ribuan ikan mabuk di sepanjang Sungai Kerinci dan aliran Sungai Kampar, mulai dari Desa Sering hingga Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau kembali menjadi sorotan masyarakat. Peristiwa ini disebut sudah berulang setiap tahun, namun hingga kini penyebab pastinya belum pernah diungkap secara jelas oleh pihak terkait.

Warga yang bermukim di pinggiran Sungai Kampar merasa resah dan khawatir, sebab sebagian besar dari mereka masih bergantung pada air sungai tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk konsumsi rumah tangga dan kegiatan nelayan tradisional.

“Kami meminta Presiden Prabowo-Gibran dapat menjadikan Sungai Kampar sebagai perhatian khusus dalam penyelamatan lingkungan. Kerusakan Sungai Kampar semakin parah, dan diduga pencemaran dari limbah perusahaan sudah banyak mencemari sungai,” kata Rorin Ardiansyah, salah seorang aktivis Kabupaten Pelalawan, Kamis, 6 November 2025.

Menurutnya, jika persoalan ini tidak segera ditangani serius oleh pemerintah pusat, maka bukan hanya ekosistem sungai yang rusak, tetapi juga kehidupan ekonomi masyarakat pesisir Kampar yang bergantung pada hasil perikanan tradisional akan ikut terancam.

Sementara itu, Naldi, warga Kelurahan Pelalawan, menceritakan bahwa dalam dua hari terakhir, warga menemukan banyak ikan mabuk dan mati mengapung di sungai. Fenomena tersebut memicu warga berbondong-bondong turun ke sungai untuk menangkap ikan yang masih hidup.

“Ya, banyak ikan mabuk seperti ikan baung, patin, udang, dan jenis lainnya. Banyak warga turun ke sungai untuk mengambilnya,” ungkap Naldi.

Namun, di balik aktivitas tersebut, warga juga menyimpan kekhawatiran akan tingkat pencemaran air Sungai Kampar. Mereka takut ikan-ikan yang mati dan mabuk itu merupakan dampak dari limbah yang mencemari air sungai.

“Sungai Kampar ini tempat masyarakat mencari penghidupan dan sumber air untuk konsumsi. Kalau sudah tercemar, kami takut menggunakannya,” tambah Naldi.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pemerintah pusat dapat melakukan penyelidikan mendalam terhadap penyebab berulangnya fenomena ikan mati di Sungai Kampar, serta menetapkan langkah nyata untuk memulihkan kualitas lingkungan di kawasan tersebut.

“Kami berharap pemerintah benar-benar hadir. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang tanpa ada solusi. Kami bermohon agar Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran memperhatikan nasib masyarakat pinggiran Sungai Kampar,” pungkas Rorin.

Menanggapi fenomena pencemaran lingkungan belakangan ini, Bupati Pelalawan H. Zukri kemudian memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Perikanan Kabupaten Pelalawan untuk segera melakukan penyelidikan dan mengambil sampel air serta ikan guna mencari penyebab pasti peristiwa tersebut.

“Saya sudah instruksikan DLH dan Dinas Perikanan untuk turun langsung dan menelusuri penyebab matinya ikan-ikan ini. Kita harus tahu apakah ini akibat pencemaran atau faktor lingkungan lainnya,” tegas Bupati Zukri saat berada di salah satu lokasi ikan mati.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pelalawan, Eko Novitra, S.T., M.Si., membenarkan bahwa tim PPLH (Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup) telah turun ke lapangan.

“Tim sudah turun ke lapangan dan mengambil sampel air dari beberapa titik untuk diperiksa di laboratorium,” ungkapnya kepada awak media.

Sementara itu, sejauh ini belum diketahui siapa yang bertanggung jawab akan matinya ribuan ikan di daerah aliran sungai kerinci dan daerah aliran Kampar tersebut.***

Tags

Terkini