Pelalawan (Sekatanews.com) - Kehadiran sebuah Korporasi atau Perusahaan yang berinvestasi di sebuah Daerah di gadang-gadangkan masyarakat agar memiliki manfaat yang lebih besar daripada mudorat atau kerugian terhadap masyarakat dan lingkungan. Namun, apa yang terjadi jika suatu korporasi menjadi bom waktu bagi masyarakat dilingkungan sekitarnya atas dampak yang ditimbulkan selama beroperasi di suatu daerah.
Baru-baru ini hasil penelitian kelompok aktivis dari Kesatuan Mahasiswa Peduli Kebijakan Sosial (KMPKS) membuka hasil penelitin diareal Hutan Tanaman Industri (HTI) APRIL Group dibawah bendera Royal Golden Eagle (RGE). Mereka menemukan bahaya laten berkelanjutan dari penggunaan kayu eucalyptus secara masif, di kawasan hutan mineral, dan lebih parah jika dilahan gambut.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 48 jam dari TA, EGCG dan TFL masing-masing adalah 92, 47, dan 186 mg·L ?1, tanpa aerasi, dan 171, 86, dan 452 mg·L ?1 di bawah aerasi. Ketika Fe 3+ pada 2, 1, dan 6 kali jumlah molar tanin ditambahkan ke larutan LC100 TA, EGCG dan TFL, mortalitas ikan zebra dalam 24 jam berkurang menjadi 0–33%," kata Ketua KMPKS Agung Maulana, S.I.kom, saat membacakan hasil penelitiannya.
Dikatakannya, kolam ikan yang tercemar oleh air hitam hutan eukaliptus (terbentuk oleh kompleksasi tanin eukalyptus dengan Fe 3+) telah mengalami kematian ikan.
"Kematian ikan akut di daerah perkebunan kayu putih terkait dengan konsentrasi tinggi tanin kayu putih di dalam air. Namun, dengan meningkatnya oksigen terlarut dan kadar Fe 3+, toksisitas akut tanin terhadap ikan dapat dikurangi," jelasnya.
Dengan demikian tambahnya, air hitam di daerah perkebunan kayu putih mencerminkan fenomena kualitas air yang mengurangi toksisitas akut tanin kayu putih terhadap ikan.
"Mekanisme keracunan tanin pada ikan mungkin terkait dengan gangguan pengiriman oksigen oleh darah ikan, tetapi mekanismenya perlu dipelajari lebih lanjut. Hasil ini memberikan dasar ilmiah untuk pencegahan dan pengendalian ikan yang menderita keracunan tanin eukaliptus akut di area perkebunan eucalyptus dan untuk perlindungan sumber daya air," beber Agung.
Selain itu, KMPKS imbuhnya, juga terinspirasi dari investigasi tim media Narasinewsroom, pada 19 November 2023 lalu, dengan hasil akhir mereportase dengan judul "Skandal Hijau: Bagaimana Industri Indonesia Menyesatkan Brand Fashion Dunia". Ia menjelaskan rincian tim tesebut yang menginvestigasi dugaan "Greenwashing" di HTI April Group atau RGE di Kalimantan dan Sumatera.
(Di era kesadaran lingkungan, fenomena "Greenwashing" menjadi umum, di mana perusahaan mengklaim sebagai 'ramah lingkungan' sementara kenyataannya berbeda. Contoh utama adalah Royal Golden Eagle Group (RGE) dan APRIL, pemain besar di industri pulp kayu.
Produk mereka yang umum, seperti kertas dan rayon viscose, sebagian besar berasal dari hutan akasia dan eucalyptus yang ditebang, berkontribusi pada deforestasi dan kerusakan habitat.
Pada Juni 2015, RGE berjanji menghilangkan deforestasi dari semua operasi produksinya, namun investigasi lapangan dan analisis data menunjukkan janji ini tidak dipenuhi. RGE dan APRIL terus memperoleh kayu dari deforestasi, meskipun telah berkomitmen untuk tidak melakukannya.
Praktik greenwashing ini terungkap melalui penggunaan perusahaan bayangan dan perusahaan cangkang di surga pajak, membuat struktur kepemilikan mereka rumit dan sulit dipahami.
Skema greenwashing ini juga mempengaruhi industri fashion global. Brand-brand terkenal seperti Marks and Spencer, Esprit, H&M, Uniqlo, dan Adidas mendapatkan pasokan rayon viscose dari RGE, yang dianggap ramah lingkungan. Ironisnya, beberapa dari merek ini telah berkomitmen terhadap keberlanjutan dan bebas deforestasi.
Efek "greenwashing domino" terjadi ketika satu perusahaan melakukan greenwashing dan memicu reaksi berantai pada mitra bisnisnya, menyebarkan informasi tidak akurat kepada konsumen. Hal ini merusak reputasi merek-merek global dan menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi dan kejujuran korporasi dalam komitmen berkelanjutan mereka.
Di permukaan, perusahaan-perusahaan ini terlihat bersinar dengan janji masa depan yang lebih hijau. Namun, publik berhak mempertanyakan, meneliti, dan menuntut transparansi serta kejujuran dari korporasi global ini, agar komitmen berkelanjutan mereka tidak hanya omong kosong belaka.
Investigasi ini menyoroti perlunya pengawasan yang lebih ketat dan tindakan yang lebih tanggap terhadap praktik greenwashing di industri global.)
Dari reportase diatas, kata Agung, juga ditayangkan di kanal Youtube Narasinewsroom dengan judul yang sama. Menurutnya, selain dari hasil penelitian mereka, juga banyak dampak lingkungan dari Perusahaan Sukamto Tanoto, yang kini dinobatkan menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sekitar 400 triliun lebih tersebut.
"Disini bisa kita lihat bersama, bagaimana cara kotor mereka menabur dampak kerugian luas kepada masyarakat dengan meraup keuntungan. Sehingga banyak para pemangku kepentingan yang diduga mengambil kesempatan dalam keserakahan mereka," tegas Agung, baru-baru ini.
Sebelumnya, Ia juga pernah diajak berdiskusi bersama beberapa organisasi Mahasiswa di RGE atau APRIL Gruop. Namun, saat mempertanyaan hal tersebut pihak Corporate Communication (Corcom) yang hadir tidak dapat menjawab pertanyaan. Bahkan, katanya, hasil penelitian mereka diminta untuk dipelajari.
"Karena kami susah payah dengan beberapa tokoh masyarakat disana, maka pada saat itu, soft copy nya tak pernah kami berikan. Apalagi mereka tidak mengetahui berdampak dari bahan pokok utama yang mereka tanam dilingkungan masyarakat. Tentu dengan ini kami akan mengajukan ke pihak terkait hasil penelitian ini, agar jadi bahan pertimbangan kedepan. Yang terpenting banyak regenerasi yang kita selamatkan nantinya," pungkasnya.***