R. Frizki Fildo Mayri : Pemilu Panggung Besar Demokrasi Menentukan Masa Depan Kita

R. Frizki Fildo Mayri : Pemilu Panggung Besar Demokrasi Menentukan Masa Depan Kita
Penulis artikel opini ini adalah R. Frizki Fildo Mayri, merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Hukum, Universitas Lancang Kuning.

SETIAP lima tahun sekali, Indonesia berubah menjadi panggung raksasa. Jutaan orang bergerak serempak, dari petugas KPPS yang bangun sebelum matahari, hingga pemilih yang antre di TPS sambil membawa harapan. Itulah Pemilihan Umum (Pemilu) momen ketika suara setiap individu, sekecil apa pun, memiliki kekuatan untuk mengubah arah negeri.

1. Mengapa Pemilu Begitu Penting?

Bayangkan sebuah kapal besar bernama Indonesia. Nahkoda dan awak kapal yang mengendalikan perjalanan ditentukan lewat pemilu. 

Tanpa mekanisme ini, kapal bisa dikendalikan sesuka hati. Pemilu memastikan rakyat tetap menjadi pemilik kapal, bukan hanya penumpang.

Pemilu bukan hanya rutinitas. Tetapi mesin penggerak demokrasi jaminan pergantian kekuasaan yang damai ruang bagi rakyat untuk memberi mandat dan evaluasi

Setiap surat suara adalah secarik kertas yang membawa masa depan.

2. Prinsip-Prinsip yang Membuat Pemilu Adil dan Bermakna.

Supaya panggung besar ini berjalan baik, Pemilu harus mengikuti prinsip-prinsip sakral jika:

- Langsung – Kamu memilih sendiri, tanpa diwakili orang lain.

- Umum – Semua warga negara dewasa punya hak yang sama.

- Bebas – Tidak ada yang boleh memaksa kamu memilih siapa.

- Rahasia – Pilihanmu aman, tak boleh diketahui siapapun.

- Jujur dan Adil – Semua peserta punya kesempatan yang setara, dan hasilnya bisa dipercaya.

- Tanpa prinsip ini, Pemilu bisa berubah menjadi sekadar sandiwara.

3. Dari Daftar Pemilih hingga Penghitungan Suara.

Perjalanan Panjang Sebuah Pemilu

Banyak yang mengira pemilu itu hanya tentang mencoblos. Padahal, jauh sebelum itu, mesin besar sudah bekerja seperti :

- Pemutakhiran data pemilih – memastikan kamu benar-benar terdaftar.

- Pendaftaran peserta dan calon – memilih siapa yang akan tampil di panggung politik.

- Kampanye – ajang adu gagasan dan kreativitas (kadang drama juga tidak terhindarkan).

- Masa tenang – sejenak menghela napas sebelum hari penentuan.

- Pemungutan suara – momen ketika suara rakyat berbicara lantang.

Penghitungan dan rekapitulasi – setiap angka berarti, setiap suara dihitung.

- Penetapan hasil – siapa yang dipercaya rakyat?

- Penyelesaian sengketa – menguji integritas proses melalui jalur hukum.

-Dibalik layar, ribuan orang bekerja siang malam agar pemilu dapat berjalan lancar.

4. Tantangan Pemilu di Era Digital

Sekarang pemilu tidak hanya berlangsung di TPS, tetapi juga di dunia maya. Tantangan baru bermunculan seperti:

- Hoaks dan disinformasi yang menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.

- Politik identitas yang bisa memecah belah masyarakat.

- Politik uang yang merusak kualitas demokrasi.

- Tingkat partisipasi pemilih muda yang belum selalu stabil.

-Tapi justru di sinilah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan bahwa demokrasi masih relevan dan harus dijaga bersama.

5. Pemilih Muda: Game-Changer Pemilu

Setiap pemilu, jumlah pemilih muda selalu mendominasi. 

Mereka kreatif, kritis, dan dekat dengan teknologi. Suara mereka dapat menjadi game changer dalam menentukan arah bangsa. Namun, potensi itu baru berarti jika:

Mereka datang ke TPS, mereka punya informasi yang benar, mereka memilih berdasarkan gagasan, bukan popularitas semata Pemilu bukan hanya tentang “siapa paling dikenal”, tetapi siapa yang paling mampu membawa perubahan.

6. Menjadikan Pemilu Lebih Bermakna

Kualitas pemilu tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara atau peserta, tetapi juga kita, para pemilih. Kita bisa ikut menjaga pemilu dengan :

Menghindari penyebaran hoaks

Menolak uang atau hadiah politik

Mengawasi jalannya pemilu

Menggunakan hak pilih dengan sadar

Demokrasi hanya bisa kuat kalau rakyatnya kuat.

Penutup atau kesimpulan penulis bahwa Suara kita adalah kekuatan. Pemilu adalah cerita tentang keberanian rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri. Ketika kita datang ke TPS, kita tidak hanya mencoblos, tetapi kita sedang menuliskan babak baru dalam perjalanan negeri ini.

Jadi, jangan remehkan suara Anda.

Karena di balik satu suara, ada masa depan bangsa yang sedang menunggu untuk dibentuk.***

Penulis artikel opini ini adalah R. Frizki Fildo Mayri, merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Hukum, Universitas Lancang Kuning.

Berita Lainnya

Index